Wayang Gagrag Jogjakarta

Namanya Sagio. Nama lainnya Mas Lurah Perwitawiguna. Nama kedua ini adalah nama gelar nama dari Kraton Jogja. Beliau ini adalah seorang ahli tatah sungging wayang Kulit Purwa gagrag (corak/gaya) Jogjakarta. Tinggal di desa kerajinan Gendeng Bangunjiwa Kasihan Bantul.

Wayang kulit purwa adalah wayang yang menggambarkan tokoh-tokoh dari cerita Ramayana dan Mahabarata. Munculnya wayang kulit purwa gagrag Jogyakarta ini seiring dengan berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejak adanya Perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua (palihan negari) yaitu Surakarta dan Jogjakarta. Salah satu isi dari perjanjian tersebut bahwa Sultan Jogjakarta akan melanjutkan tradisi Mataram. Sedangkan Sunan Surakarta akan membuat yang baru. Salah satu tradisi Mataram adalah Wayang Kulit Purwa.

Makanya, sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, wayang kullit yang ada disebut dengan wayang kulit gagrag Jogjakarta. Padahal pada kenyatannya, wayang gagrag Jogjakarta secara utuh mulai pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII dan Sultan Hamengkubuwono VIII. Soalnya sebelum Sultan Hamengkubuwono VII wayang kulit purwa yang ada di kraton Jogyakarta masih campuran dengan gagrag Surakarta.

Perintis seni tatah sungging wayang kulit gagrag Jogyakarta adalah dua orang dalang bernama Jayaprana dan Jaka Panatas anaknya. Kedua dalang bapak dan anak tersebut tinggal di Desa Danaraja daerah Wonosobo. Di tempat itu Jayaprana berbesanan dengan Ki Atak dengan menjodohkan Jaka Panatas dan Sutiyah. Kemudian pasangan tersebut melahirkan anak laki-laki dan diberi nama Bagus Riwong.

Jayaprana dan Jaka Penatas adalah abdi Pangeran Mangkubumi. Tapi karena Pangeran Mangkubumi perang melawan Belanda mereka berpisah. Setelah perang usai dan Pangeran Mangkubumi menjadi raja dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jayaprana dan Jaka Panatas datang menghadap dan menyatakan diri sebagai abdi raja.

Jayaprana mengembangkan dan menciptakan tatah sungging wayang purwa. Salah satu cirinya adalah seseorang yang sedang menari, untuk tokoh putra. Hasil karya Jayaprana dinamakan dengan gaya ‘Andhadhap’.

Jaka Panatas mengembangkan dan menciptakan tatah sungging wayang purwa yang menggambarkan seseorang yang sedang dalam posisi berdiri dan berhenti, untuk tokoh putri. Hasil karya Jaka Panatas tersebut dinamakan dengan gaya ‘mandheg’. Wayang yang dihasilkan oleh keduanya dhalang Bapak dan Anak tersebut disungging (diwarna) dengan tehnik gradasi sederhana, nggak rumit. Ada perbedaan yang mendasar diantara ke duanya. Wayang karya Jayaprana tatahannya kurang halus dan sunggingannya kuat, diisi dengan motif ‘cawen.’ Sedangkan wayang karya Jaka Panatas tatahannya halus. Tapi tehnik sunggingnya kalah kuat dibandingkan dengan tehnik sungging karya Jayaprana.

Dalam proses selanjutnya karya Jayaprana dan Jaka Panatas saling melengkapi dan berpadu yang kemudian dikukuhkan menjadi tatah sungging wayang kulit purwa gagrag Jogjakarta.

Sementara itu Ki Atak (besan Jayaprana), membuat wayang purwa berbentuk gagah dan pendek atau kakkong. Akronim dari kata tungkak (tumit) cedhak bokong (pantat). Jenis wayang purwa karya Ki Atak merupakan cikal bakal wayang purwa gagrag Kedu. Nggak mau ketinggalan dengan Bagus Riwong, anak Jaka Panatas dengan Sutiyah ini juga menciptakan tatah Sungging wayang kulit purwa. Tapi berbeda dengan karya Jayaprana, Jaka Panatas dan Ki Atak dan disebut dengan gaya ‘Prayungan.’

Leave a Comment