Tradisi Menguras Enceh

Enceh? Apaan ya?

Nggak heran kalau kamu bertanya kayak gitu. Soalnya emang nggak banyak yang tahu apa sebenarnya arti kata Enceh ini. Mungkin kamu lebih terbiasa dengan kata genthong. Kalau genthong kamu tahu kan. Masih nggak tahu juga? Yaelah, itu lho, tempayan air. Tapi biasanya gedhe banget. Dibuatnya dari tanah.

Nah, di Jogja ada satu tradisi turun temurun yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat. Namanya Tradisi Menguras Enceh. Tentu saja bukan menguras enceh di masing-masing rumah penduduk. Tapi ada stau enceh yang cukup gedhe. Nah enceh ini yang dikuras. Ada sejarahnya Sob, kenapa ada tradisi nguras enceh.

Kamu pasti tahu Sultan Agung raja Mataram kan? Nah, Sultan Agung raja Mataram yang bertahta pada tahun 1613 sampai dengan 1645 Masehi, sering melakukan perjalanan. Travelling gitu deh Sob. Nggak tanggung-tanggung, lintas Negara. Kalau dulu mungkin masih gampang ya Sob. Nggak seribet sekarang. Mau kemana-mana pakai ngurus password eh passport segala. Hehehe.

Nah, setiap ia berkunjung, ia selalu menolak kalau diberi hadiah berupa emas permata sebagai tanda persahabatan. Hmm, coba kalau kita yang berangkat ya Sob. Langsung mausk kantong deh emasnya. Hahaha. Kan lumayan buat nambah tabungan. Itu lah bedanya orang dulu sama jaman sekarang Sob. Sebagai gantinya, Sultan Agung meminta ‘enceh’ atau genthong untuk menyimpan air dalam ukuran besar. Alasannya agar supaya airnya dapat dimanfaatkan oleh kawula Mataram.

Ada empat kerajaan yang kemudian datang ke Mataram untuk memberikan hadiah enceh kepada Sultan Agung. Kerajaan Palembang, Kerajaan Aceh, Kerajaan Turki serta kerajaan Siam. Pemberian itu diantar langsung ke Mataram. Eh, Sob pernah bayangin orang jalan kaki bawa genthong dari Turki ke Mataram?matram ka nada di Jogja. Nah kalau belum pernah, bayangin sekarang. Jaman dulu, untuk memberikan hadiah, sampai segitunya ya. Hmm..dulu belum ada pak pos sih ya. Coba sudah ada tukang pos, kan tinggal pakai jasa pos. Kilat khusus. Sehari sampai tujuan. Lah malah iklan.

Setelah Sultan Agung wafat, keempat enceh tersebut dikeramatkan dan diletakkan di sebelah kanan kiri pintu masuk kompleks makam Sultan Agung. Keempat genthong enceh tersebut diberi nama: 1. Kyai Danumaya berasal dari kerajaan Palembang, 2. Kyai Danumurti berasal dari kerajaan Aceh, 3. Kyai Mendung berasal dari kerajaan Turki, 4. Kyai Siyem berasal dari kerajaan Siam Thailand.

Seperti yang dipesankan Sultan Agung, sampai sekarang air di dalam enceh tersebut dapat dimanfaatkan oleh setiap orang. Sepanjang tahun, selalu saja ada orang yang datang berziarah di kompleks makam Sultan Agung untuk meminta air dari enceh. Kalau airnya mulai berkurang, para abdi dalem biasnaya menambahnya dengan mengambil air dari sendang. Hmm..tahu gitu langsung ambil dari sendang aja ya Sob. Langsung dapat banyak. kalau perlu pinjal tangki air PDAM. Hehehe.

Setahun sekali, pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di bulan Suro mulai pukul 09.00 sampai selesai, keempat enceh tersebut dikuras, dibersihkan dan diganti dengan air yang baru. Pelaksanaan nguras enceh tersebut menjadi upacara tradisi turun-temurun.

Sehari sebelum nguras enceh, diadakan pawai budaya mengarak ‘siwur’ (ciduk bertangkai panjang dari tempurung kelapa). Pawai ini melibatkan unsur pemerintah daerah dan masyarakat Imogiri.

Uapacara diawali dengan menyediakan sesaji lalu tahlilan, atau memanjatkan doa bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan mengisi enceh. Pengisian enceh ini dilakukan bergantian dari yang berpangkat tinggi terus disambung oleh yang berpangkat di bawahnya, hingga sampai kepada masyarakat umum.

Walaupun enceh telah penuh dengan air, pengisian terus dilakukan, karena saat itulah yang ditunggu-tunggu. Air luberan dari enceh menjadi rebutan masyarakat.

 

Leave a Comment