Endhog Abang Sekatenan

Sekaten. Satu budaya Jogja yang nggak akan habis ditulis dalam berlembar-lembar kertas. Mulai dari asal usulnya, perkembangannya, hingga apa-apa yang berkaitan dengannya. Satu yang selalu ada dalam setiap perayaan sekaten adalah endhog abang. Dalam bahasa Indonesia disebut telur merah.

Dalam setiap kali acara Sekatenan yang diselenggarakan keraton-keraton Islam di Jawa, khususnya di Joga, pasti selalu ada penjual telur merah. Telur-telur ini biasanya dijual dengan cara ditusuk dengan sebilah bambu.

Tradisi semacam ini sudah ada sejak sekatenan itu diadakan (zaman Kerajaan Demak). Endhog abang ini merupakan simbol dari kelahiran jabang bayi. Jabang bayi kan masih kecil dan belum bisa berbuat banyak. Makanya harus banyak yang mendukung atau menyokong.

Sokongan itu dilambangkan dengan lidi atau bambu yang ditusukkan ke dalam telur. Pada sisi lain tusukan bambu dan telur merah itu juga sering dimaknai sebagai menyatunya kawula dan gusti. Masyarakat dengan pemimpinnya. Tuhan dengan umat-Nya.

Telur-telur merah atau endhog abang ini biasanya dijual di seputaran pelataran Masjid Agung Keraton. Masjid merupakan sentra kegiatan ritual sekatenan karena sekaten memang dimaksudkan sebagai penyebaran atau dakwah Islam. Hal ini dihubungkan dengan salah satu sejarah yang mengatakan kalau sekaten diambil dari kata syahadatain (ada juga yang mengatakan dari kata sekati). Syahadatain yang artinya adalah dua kalimat syahadat yang menjadi kunci utama keyakinan umat Islam. Hanya saja, karena masyarakat Jawa susah mengucapkan syahadatain, maka muncullah istilas sekaten.

Satu yang unik adalah, para penjual endhog abang biasanya adalah wanita lanjut usia. Rata-rata dari mereka telah menjalani profesi sebagai penjula telur merah ini selama puluhan tahun. Bahkan ada yang telah 40 tahun. Bagi beliau-beliau, menjual endhog abang bukan semata-mata untuk cari untung atau bahkan menumpuk harta. Tapi, dengan ini mereka merasa dekat dengan raja, dekat dengan orang-orang yang beribadah di masjid, dengan begitu mereka juga merasa dekat dengan Tuhan.

Mau beli? Tunggu Sekaten berikutnya di Jogja..

Welcome to Jogja…!!

 

 

KOMENTAR

Comments are closed.