Sesaji Kayu

Nah loh, siapa yang langsung ingat kembang, dupa dan kawan-kawannya? Nggak selamanya sesajen itu hanya berkutat dengan dunia kembang dan kawan-kawannya Sob. Ada juga kok sesajen dalam bentuk kayu. Nah, baru dengar sekali ini kan.

Bagi masyarakat Jawa, sesaji sangat berkaitan erat dengan prosesi daur hidup, seperti upacara mitoni, upacara kematian, upacara pernikahan dan lainnya. Bahan sesaji bisa aneka jenis, misalnya kembang, bubur sumsum, kemenyan, dan lainnya.

Sesaji itu dihadirkan cuma sebagai simbol. Setelah itu, makanan yang digunakan untuk sesaji juga diberikan lagi kepada yang member sesaji. Akhirnya makanan itu hanya berpindah kedudukan. Tapi, ada juga Sob yang nggak kayak gitu. Misalnya sesaji yang ada di museum kayu.

Pengelola museum menyebutnya sebagai “sesaji kayu”. Sebelumnya, kamu tahu nggak museum kayu ada dimana? Hyaahhh…tak kasih tahu deh. Museum kayu itu kepunyaan Universitas Gadjah Mada (UGM). Terletak di Hutan Bunder Gunungkidul, Jogjakarta.

Museum Kayu Wanagama ini mengoleksi benda-benda terbuat dari kayu. Di situ ada rumah panggung (buatan tahun 1880) yang sekaligus sebagai rumah museum, gebyog, meja kursi, topeng, patung lara blonyo, gupala, alat rumah tangga, alat pemintal benang, dan lainnya. Lokasi museum berada di dalam hutan yang menjadi lahan studi Fakultas Kehutanan UGM.

Kamu tahu kan kalau kayu itu benda organik. Jadinya, banyak koleksi museum yang mudah hancur, apalagi kalau kurang perawatan. Nah, itu masalah paling besar yang dihadapi museum ini Sob. Hampir setiap koleksi dimakan hama kayu, nggak terkecuali dengan rumah kayu itu. Lantai, dinding, hingga atap rumah terlihat mengalami lapuk atau berlubang dimakan rayap.

Kondisi makin parah karena lokasi museum berada di hutan. Hutan kan penuh dengan hama kayu. Jadi, kalai nggak ada pencegahan, koleksi museum kayu itu bakal punah. Oleh sebab itu, muncullah ide sesaji kayu.

Bagaimana bentuk dan manfaatnya? Jadi, para pengelola museum menyediakan gelondongan-gelondongan kayu sengon, jabon, akasia, flamboyan, dan sejenisnya. Gelondongan kayu itu lantas di sebar di delapan penjuru luar rumah museum.

Hasilnya manjur Sob. Sejak gelondongan aneka kayu itu disebar pada akhir 2012, kayu-kayu itu mulai diserang hama, termasuk rayap. Kayu mengalami kelapukan. Bubuk kayu mulai muncul. Itu artinya, hamanya menyerang kayu itu.

Sebaliknya, pada kayu-kayu rumah dan koleksi berharga lainnya nggak menunjukkan tanda-tanda penambahan kerusakan. Ini artinya, hama kayu berpindah ke kayu-kayu sesaji yang menjadi makanan kesukaannya. Jadi, sesaji kayu itu telah menyelamatkan kayu-kayu kuno yang punya nilai historis dan kultural. Ide sederhana tapi tepat sasaran.

Leave a Comment