Sengkalan Memet Ular di Pintu Kamagangan Kraton Jogjakarta

Satu bangunan yang menjadi icon Jogjakarta adalah Keraton. Ya kan Sob. Siapa aja yang datang ke Jogja pasti ingin sekali mampir dan melihat dari dekat, seperti apa bentuk bangunan kuno ini. Emang sih, Jogja tanpa keraton itu rasanya kayak ada yang hilang. Sudah menjadi khas. Nggak bisa dipisahkan. Nah, mumpung kita lagi ngobrolin keraton nih. Satu ini kamu musti tahu. Hampir semua bagian yang ada di keraton punya maksud dan maknanya tersendiri. Salah satunya adalah Sengkalan Memet Ular. Ini sejenis hiasan pintu di bangsal Kamanggangan Keraton.

Pendopo atau Bangsal Kamagangan Kraton Kasultanan Jogjakarta terletak di sebelah selatan Bangsal Kencono. Dipisahkan dengan tembok keraton. Bangsal ini sebagai penghubung dengan Siti Hinggil Dwi Abad yang terletak di Alun-Alun Selatan. Bangsal Kamagangan atau sering disebut Bangsal Magangan sebagai tempat persiapan bagi abdi dalem kraton yang akan diwisuda (baik menjadi abdidalem baru atau kenaikan pangkat) oleh Penguasa Kraton Kasultanan Jogjakarta. Bangsal kamagangan dengan luas lebih dari 15 meter x15 meter ini terletak di tengah-tengah halaman luas, tepat di depan pintu keluar Kori Kamagangan.

Kalau kamu pernah masuk ke Keraton Jogja, kamu pasti kalau menuju ke selatan melewati pintu Kamagangan ini. Sebelum keluar melewati Kori Kamagangan, ada sengkalan memet berujud ular yang terletak di utara pintu Kamagangan. Sengkalan memet itu berujud 2 naga hijau. Ekornya saling berlilitan, dengan sengkalan “Dwi Naga Rasa Tunggal”. Sengkalan memet itu menunjukkan angka tahun 1682 J atau bertepatan dengan tahun 1755 M. Tua banget ya Sob. Pasti diantara kamu sekalin belum ada yang lahir. Ya iyalah, kalau sudah ada yang lahir, berarti simbah-simbah donk.

Menurut salah satu abdidalem Kraton Kasultanan Jogjakarta, sengkalan itu adalah tanda berdirinya Kraton Kasultanan Jogjakarta. Ada lagi sepasang naga yang menjaga gapura pintu luar Kamagangan, letaknya di sebelah kanan kiri gapura. Kali ini warnanya merah. Mengandung sengkalan Dwi Naga Rasa Wani. Juga menunjukkan angka tahun 1682 J atau 1755 M. Bedanya, naga berwarna merah ini terletak di kanan kiri pintu keluar dan yang jelas saling terpisah. Sengkalan ini juga masih sebagai tanda berdirinya Kraton Jogjakarta.

Di kanan kiri kori Kamagangan, ada 4 bangsal kecil. Sering digunakan untuk pacaosan. Pacaosan artinya bakti yang dilakukan untuk raja dengan cara berpiket. Di sebelah kanan ada 2 tempat pacaosan, di sebelah kiri juga ada 2. Abdi dalem yang bertugas di Kamagangan ini ada sekitar 60 orang. Mereka melakukan caos 10 hari sekali. Setiap pacaosan ada 10 abdidalem yang piket. Setiap piket waktunya 24 jam, dari pukul 7 pagi hingga 7 pagi hari berikutnya.

Satu lagi yang unik di area Kamagangan, yaitu adanya lonceng. Mirip lonceng yang ada di Gereja itu Sob.  Setiap setengah jam lonceng ini dibunyikan. Kalau jam  menunjukkan angka penuh, misalkan jam 8 pagi, lonceng dibunyikan 8 kali. Lonceng ini terletak di sebelah barat Kori Kamagangan. Sebelah kanan pintu keluar. Petugas yang membunyikan lonceng ini adalah abdi dalem yang piket. Uniknya, setiap abdi dalem yang akan membunyikan bel, ia memberi sembah terlebih dahulu.

Leave a Comment