Sejarah Perkembangan Geplak Jago

Kamu pasti sudah tahu donk kalau salah satu makana kecil khas Jogja adakah Geplak. Makanan yang warna-warna ini memang banyak yang suka. Manis sih, kayak kamu. Eeaaa.

Tapi, meskipun smeua geplak rasanya manis, tetap aja ada beberapa merk yang sudah branded. Rasanya tentu beda dengan yang lain. Salah satunya adalah gepalk jago. Sejago apa ya geplak merk satu ini. Yuk mari kita lihat jagoan kita.

Geplak Jago ini termasuk jagoan di Jogja. Geplak ini sudah ada sejak tahun 1967.  Jaman Indonesia susah pangan, geplak ini sudah ada. Kini, geplak jago diproduksi sebanyak 1 ton per hari. Rasanya campuran gurih kelapa dan manis gula.

Nggak ada sesuatu yang nggak punya sejarah Sob. Termausk juga geplak jago ini. Awalnya, pada tahun 1967 pak Jafar dan istrinya mencoba membuat geplak. Pak Jafar berasal dari Pendowoharjo Sewon, kalau istrinya Badegan. Badegan ini sempat kondang sebagai penghasil geplak.

Saat itu ia nggak punya pekerjaan. Lalu ia mulai melirik usaha geplak, soalnya waktu itu belum banyak produsen geplak. Banyak yang pensiun gitu deh. Pensiunan kan nggak cuma pensiunan PNS Sob. Tapi ada juga pensiunan PNS. Saat itu, pembuat geplak tersisa cuma Mbah Poi. Mbah Poi berjualan di Stasiun Bantul.

Pak Jafar lalu menjual satu-satunya sepeda onthel merek Fongers miliknya. Waktu itu, usaha geplak ini cuma dijalankan bedua dengan sang istri. Dulu awalnya, rata-rata produksi geplaknya 10 kg per hari. Karena sudah nggak punya sepeda, Pak Jafar jalan kaki ke Stasiun Bantul. Lalu, naik kereta api ke Stasiun Dongkelan. Lalu mulailah menjajakan geplaknya dari pintu ke pintu.

Salah satu kelebihan geplak jago adalah awet sampai dua minggu. Begitu juga istrinya, Bu Jafar juga mengasong geplaknya di kereta api. Mulai dari Kuda Putih (Jogja-Solo) sampai Patas Pandanaran (Solo-Semarang), bahkan Gaya Baru (Jogja-Jakarta). Ia juga sempat berjualan di Pasar Klewer Solo yang baru dibuka. Akhirnya ia adapat order besar. Pak Jafar diminta menyediakan geplak sebanyak 50 kg per hari selama tiga bulan untuk kru film ‘Janur Kuning’. Sejak saat itu usaha ini terus berkembang.

Permintaan geplak juga datang dari luar negeri. Pada tahun 1987-1988 ada 30an negara yang meminta sampel. Sayangnya nggak semuanya bisa dipenuhi. Soalnya, masa awet panganannya nggak bisa sampai berbulan-bulan.

Bukan hidup kalau terus enak Sob. Begitu juga geplak jago ini. usaha ini sempat anjlok pada tahun 1992. Sebabnya karena persoalan kredit bank yang carut-marut. Sampai tahun 2002 saat utangnya lunas, geplak Jago bisa dikatakan jalan di tempat.

Namanya pengusaha emang harus punya kemauan keras. Berkat usaha Pak Jafar, geplak jago kini berkembang lagi. Kini jumlah karyawannya 130an orang. Semua terlibat dalam produksi. Ditambah 10 orang pelayan toko. Semua anaknya ikut terjun membantu.

Dalam perkembangannya, Jago telah memproduksi panganan selain geplak. Mulai dari peyek, jenang, bakpia, yangko, rengginang, wajik klitik, dan terakhir ini, ampyang kelapa. Menurut Pak Jafar, ia mencoba menghidupkan lagi ampyang kelapa yang lama menyurut. Jago ini nggak cuma singkatan dari Jafar Gose tapi memang jago panganan tradisional dari Bantul.

 

Leave a Comment