Petilasan Ki Ageng Mangir

Masalah Sejarah, Jogja emang nggak ada duanya. Jagonya. Top Markotop dah! Sampai-sampai orang Jogja aja nggak nyangka. Oh, ini ada di Jogja to. Oh, di Jogja ada yang kayak gitu to. Udah biasa Sob komentar-komentar kayak gitu. Parahnya lagi, banyak mahasiswa asli Jogja yang dengan PD-nya bilang, “Ternyata Jogja itu asyiknya”. Yaela, kemana aja Sob. hari gini baru nyadar kalau Jogja amazing, penuh dengan berbagai peninggalan yang oke punya.

Salah satu peninggalan sejarah yang nggak banyak diketahui adalah Petilasan Ki Ageng Magir. Nah lho, ngaku aja deh, yang ngrasa orang Jogja tapi belum tahu kalau di Jogja ada kayak beginian. Coba di test, Ki Ageng Mangir itu siapa? Nah, bengong kan. Ckckckck. Hehehe.

KEISTIMEWAAN

Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah seorang pengusaha sebuah daerah perdikan di tanah Jawa. Daerah tersebut namanya Mangir. Pada saat bersamaan, Ki Ageng Pamanahan – Sutowijaya berhasil menaklukkan Kerajaan Pajang dan mendirikan kerajaan Mataram Islam. Waktu itu pustanya ada di Kota Gede. Lalu dinobatkanlah anaknya (Panembahan Senopati) menjadi Raja (1575-1601)

Seperti daerah-daerah lain di Jawa. Pertempuran perebutan kekuasaan pun terjadi antara Mangir dan Mataram. Hingga akhirnya Mangir kalah setelah Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senopati. Mangir kalah pada waktu menghadap bersama Sekar PEmbayun dalam sebuah perkawinan rekayasa. Perkawinan ini dibuat oleh Matarm dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir. Wah…ternyata permaian politik udah dimulai sejak dulu ya.

Jenazah Ki Ageng Mangir disemayamkan di Makam Raja-Raja Kotagede. Hingga saat ini makamnya masih dikunjungi oleh banyak peziarah. Secara fisik, separuh nisannya berada di dalam tembok makam raja-raja. Separuhnya berada di luar tembok. Soalnya disatu sisi beliau adalah menantu dari Panembahan Senopati. Di sisi lain, beliau adalah musuh besar kerajaan.

LOKASI

Petilasan Ki Ageng Mangir ini bias dijumpai di Dusun Mangir Tengah, Sendangsari, Panjangan, Bantul. Kini Petilasan ini sudah dipagari dengan biaya swadaya oleh seorang warga bernama Suwandono.

HARGA TIKET

Free.

 

Leave a Comment