Nyai Brintik, Istri Panembahan Bodo

Banyak tokoh-tokoh sejarah yang ada di Jogja. Baik itu setelah Jogja berbentuk Kesultanan Jogja atau masih bentuk Mataram Islam. Sayangnya, kisah hidup perjuangan tokoh-tokoh ini nggak tertuliskan dengan baik. Hanya beredar dari mulut ke mulut.  Akhirnya banyak kisah yang hilang dan terlupakan.

Selain terlupakan, banyak dari kisah itu yang berubah. Jadi banyak tambahannya. Maklum saja, cerita itu mengalir begitu saja. Kadang ada yang menambahi, ada juga yang mengurangi. Salah satu kisah tokoh yang agak simpang siur adalah kisah Nyai Brintik. Nah, kamu pasti juga baru sekali ini denger kan. Kenapa juga namanya Nyai Brintik. Apakah karena rambutnya Brintik alias keriting? Hihihi, bisa jadi lho Sob. Mau tahu cerita versi lengkapnya? Langsung cekiprut Sob.

KEUNIKAN

Nyai Brintik adalah istri dari Panembahan Bodo. Panembahan Bodo dikenal juga sebagai Raden Trenggono atau Syeh Sewu. Makam dari Panembahan Bodo ini berada di Dusun Pijenan, Wijirejo, Pandak, Bantul. Sisi utara dari kompleks makam Dusun Karang pada.

Ada yang mengatakan kalau Nyai Brintik adalah salah satu putri dari Sunan Kalijaga. Tapi ada juga yang menyatakan Nyai Brintik adalah putra dari Kyai Santri dari Muntilan. Versi ketiga menyatakan bahwa Nyai Brintik adalah salah satu anak didik (santriwati) dari Sunan Kalijaga. Bingung? Begitulah Sob kalau sejarah nggak tertuliskan dengan baik. Hanya bersumber dari mulut ke mulut saja.

Nyai Brintik dulu tinggal di Dusun Kauman bersama suaminya Panembahan Bodo. Dusun Kauman ini terletak di timur Dusun Karang. Nyai Brintik pernah membuat bedug. Bedug ini kemudian digunakan di sebuah masjid peninggalan Sunan Kalijogo di Kalibawang, Kulon Progo yang terkenal dengan nama Masjid Kedondong. Cara membawa bedug tersebut menurut cerita tutur setempat dilakukan dengan cara digendong oleh Nyai Brintik. Cerita setempat juga menyebutkan bahwa Nyai Brintik juga memiliki ilmu kanuragan berlebih dibandingkan orang awam.

Saat meninggal Nyai Brintik akan dimakamkan di Makam Sewu di Pijenan. Disamping sisi makam suaminya, Panembahan Bodo. Tapi saat rombongan pembawa jenazah akan menyeberang Sungai Bedog, sungai itu sedang banjir besar.

Sungai Bedog ini menjadi pemisah antara Dusun Pijenan dengan Dusun Kauman dan Dusun Karang. Rombongan pembawa jenazah ini nggak bisa melanjutkan perjalanan menuju Makam Sewu.waktu itu belum ada jembatan yang menghubungkan wilayah itu. Pemakaman jenazah akhirnya ditunda.

Sampai beberapa hati banjir juga nggak surut. Maka jenazah Nyai Brintik pun akhirnya dimakamkan di Dusun Karang. Makam Nyai Brintik berada di sisi utara dari kompleks makam Dusun Karang. Makam ini telah dilengkapi cungkup. Ukuran cungkup sekitar 4 m x 6 m. Cungkup memiliki satu pintu menghadap ke selatan. Nisan makam Nyai Brintik terbuat dari batu putih (tufa) dengan ukuran panjang sekitar 125 cm, lebar 40 cm, dan tinggi hingga kepala jirat 50 cm.

LOKASI

Makam Nyai Brintik terletak di Dusun Karang, Kalurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Jogjakarta.

AKSES

Letak makam Nyai Brintik ini tepatnya berada di sisi barat Pasar Pijenan pada jarak sekitar 1,5 kilometer.

HARGA TIKET

Free.

AKOMODASI DAN FASILITAS LAINNYA

Nggak ada.

Leave a Comment