Model Keluarag Jawa Dulu dan Sekarang

Kalau kita melihat kebelakang, pasti kita nggak lihat kedepan. Halah, jayus banget sih. Hehhe. Kalau kamu suka baca sejarah, kamu pasti tahu gambaran keluarga Jawa jaman dulu. Semuanya serba sederhana. Dari pola pikir, cara makan, apa yang dimakan, cara berpakaian dan lain sebagainya. Keluarga Jawa yang bisa disebut lebih maju barangkali lebih terbatas pada keluarga-keluarga priyayi. Baik priyayi trah keraton maupun priyayi hasil pendidikan Barat (guru, dokter, insinyur, dan sebagainya).

Sekian waktu berlalu, banyak yang berubah. Ada yang berubah lebih maju, ada juga yang tetap dipegang teguh. Salah satu yang banyak berubah tentu saja cara berpakaian. Sekarang ini nggak ada lagi yang menggunakan pakaian berupa kain jarit dan kebaya. Ya kan Sob. Bahkan kamu juga belum tentu punya kan. Hayoo ngaku. Ngacung siapa yang masih suka pakai kebaya kemanapun pergi. Sekarang juga nggak ada lagi yang telanjang dada atau telanjang kaki saat bepergian. Dulu sandang masih mahal, kini uang dengan uang 10000 aja udah bisa beli baju.

Sekarang kamu pasti juga uadah jarang nemuin rumah berdinding bamboo, beratap daun kering. Rumah-rumah berdinding bambu telah banyak yang berubah menjadi berdinding tembok. Kuda dan sepeda ontel telah digantikan sepeda motor dan mobil dengan desain canggih dan komposisi mesin yang hebat pula. Nggak ada lagi pria Jawa yang menggelung rambutnya. Menghaluskannya dengan sisir berbentuk melengkung setengah lingkaran di atas dahinya.

Pengaruh dari luar emang banyak. lihat aja, mana ada anak muda jaman sekarang yang pakai nama Jawa. Poniyem, Paijo, dan lain sebagainya. Nama-nama itu sekarang sudah dianggap ketinggalan jaman. Sudah berganti jadi anggela, anggun, atau nama-nama luar yang lain. Banyak keluarga Jawa beranggapan bahwa nama-nama yang demikian dianggap ketinggalan zaman. Udik. Ndesa. Kampungan. Bahkan sering dianggap primitif.

Jaman sekarang juga banayk keluarga Jawa yang malu menyebut ibunya dengan sebutan simbok, biyung atau emak. Lebih suka mami, mama, bunda dan lain sebagainya.

Emang nggak ada yang salah sih. Selama perubahan itu baik. Selain itu juga nggak meninggalkan kebudayaan dan adat istiadat. Masalahnya sekarang adalah, kita akan sulit menemukan rumah dengan kesan Jawa. Semua sudah berganti desain menjadi rumah modern. Joglo-joglo dengan bahan kayu sudah banyak digantikan rumah-rumah bertembok. Hingga akhirnya, anak-anak kita (kita? Kamu deh, hehehhe) banyak yang nggak mengenal adat istiadat leluhur.

Gambar diambil dari buku De Javaansche Vorstenlanden in Oude Ansichten, H.J. de Graaf, Zaltbommel: Europese Bibliotheek, 1971.

 

Leave a Comment