Mas Mur Jangkung

Nah loh, siapa lagi ini. tokoh baru kah? Kok namanya nggak pakai kata eyang? Hehehhe. Itukah eyang kukur. Eh salah ya? ah, nggak penting laah ya. Bagi masyarakat Jawa, nama Jan Pieter Zoon Koen mungkin terdengar asing. Barangkali lebih akrab dengan nama Mur Jangkung. Padahal Jan Pieter Zoon Koen maupun adalah satu sosok pribadi yang sama. Nama Jan Pieter Zoon Koen di masyarakat Jawa lebih dikenal dengan nama Mur Jangkung.

Buat kamu yang loadingnya lama, nama Mur mungkin dianggap sebagai nama Jan sendiri. Sedangkan Jangkung kemungkina adalah predikat untuk Mur yang berpostur jangkung. Masyarakat Jawa sendiri kemungkinan besar hanya mengadopsi nama atau istilah yang sudah umum beredar pada masyarakat Betawi waktu itu. kan di Jawa jaman dulu nggak dikenal kata jangkung. Jangkung dalam khasanah bahasa Jawa sepadan dengan kata longgor atau dhuwur.

Sebenarnya kata mur berasal dari kata Moor. Menunjuk pada bangsa-bangsa Eropa. Hanya saja bagi masyarakat Jawa penyebutan Moor, agak sulit. Maka berubahlah kata Moor itu menjadi Mur saja. Sedangkan kata Jan Pieter Zoon Koen demikian terasa sulit dilafalkan oleh lidah masyarakat Jawa. Lalu berubahlah nama ini menjadi Jan Kun saja. Dari Jan Kun ini maka berkembanglah pengucapan selanjutnya menjadi Jangkung. Nggak salah juga sih, postur orang Eropa semacam Jan Pieter Zoon Koen kan lebih tinggi daripada orang-orang Jawa pada umumnya.

Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Koen ini begitu terkenal dibandingkan dengan gubernur jenderal-gubernur jenderal Belanda lainnya. Ia erkenal karena merupakan gubernur jenderal pertama di tanah Hindia Belanda. Selain itu dia pulalah yang berhadapan langsung dengan pengepungan Batavia (1628) dan (1629) yang dilakukan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram. Ia juga ditokohkan dalam sebuah jenis kesenian wayang (wayang klithik) di Jawa sebagai tokoh antagonis. Wayang yang melakonkan peristiwa penjajahan VOC atas tanah Nuasantara ini sering dinamakan wayang dupara. Dalam cerita wayang J.P Koen (J.P. Coen) ini sering dikenal dengan nama Mas Mur Jangkung.

Demikian seperti yang dituliskan dalam buku Mur Jangkung: Jan Pieter Zoon Koen yang dituliskan oleh Hermanu dan diterbitkan oleh Bentara Budaya, Jogjakarta, 2005.

Redaksi Sumber Utama Tulisan: Hermanu, 2005, Mur Jangkung: Jan Pieter Zoon Koen, Yogyakarta: Bentara Budaya.

 

Leave a Comment