Malam Selikuran

Kalender Jawa nggak cuma mengenal Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Orang Jawa juga menggunakan hitungan Jawa sebagai penanda waktu tertentu yang dianggap sakral. Misalnya Malem Selikuran. Malem dalam bahasa Jawa berarti malam dan Selikuran berarti dua puluh satu. Jadi bisa diartikan malem selikuran berarti malam yang kedua puluh satu. Malem selikuran yang dimaksud adalah malam ke dua puluh satu Ramadhan.

Pada malam ini, Keraton Surakarta Hadiningrat dan masyarakat Solo menggelar tradisi berupa kirab seribu tumpeng. Rutenya dari halaman Pagelaran Keraton Surakarta, berjalan menyusuri Jalan Slamet Riyadi dan berakhir di Taman Sriwedari, Solo. Tradisi ini digelar untuk menyambut malam lailatul qadar, sebuah malam yang dianggap orang muslim sebagai malam yang istimewa lebih dari seribu bulan. Nggak heran kalau tumpeng yang diarak berjumlah seribu buah.

Kirab diawali oleh para prajurit keraton. Membawa simbol-simbol kebesaran keraton. Menyusul di belakangnya belasan wanita dengan pakaian kebaya berwarna-warni menyanyikan tembang-tembang Jawa yang bernuansa Islami. Selanjutnya adalah kereta kuda yang bernama Retno Puspo dan Retno Juwito yang ditunggangi oleh kerabat keraton.

Di belakang kereta kuda, diikuti barisan 24 ancak cantoko (tempat sesaji). Berisi seribu tumpeng serta barisan 21 lampu ting, melambangkan peringatan “Malem Selikuran“. Sampai di Taman Sriwedari, seribu tumpeng tersebut diserahkan oleh salah seorang kerabat keraton kepada ulama keraton. Setelah didoakan, tumpeng dibagikan dan diperebutkan masyarakat. Mereka menyebutnya ngalap berkah.

KEISTIMEWAAN

Tradisi malem selikuran adalah tradisi budaya yang berpadu dengan religius. Melihat ritual ini kamu bisa melihat antara budaya dan religi saling bersatu dan menguatkan. Buat kamu yang suka dunia budaya kamu pasti nggak pengin ketinggalan acara ini.

Begitu tradisi di gelar, kamu bakal menemukan banyak simbol-simbol budaya. Symbol-simbol budaya ini diikutsertakan sebagai bagian dari kirab, seperti tumpeng yang berjumlah seribu dan umbul-umbul kerajaan.

LOKASI

Tradisi malem selikuran digelar di tiga lokasi berbeda namun saling berhubungan, yaitu Keraton Surakarta, Jalan Slamet Riyadi dan berakhir di Taman Sriwedari Solo.

AKSES

Dari Jogja, kamu bisa naik bus jurusan Jogja-Solo. Turun di terminal Tirtonadi. Dari terminal Tirtonadi, kamu bisa naik becak atau angkutan kota yang menuju Keraton Solo dan turun di jalan dekat Keraton.

HARGA TIKET

Gratis.

AKOMODASI DAN FASILITAS LAINNYA

Banyak fasilitas yang bisa kamu nikmati sepanjang jalan yang dilalui kirab. Selain itu kamu juga bisa sambil hunting foto. Buat kamu yang hobi fotografi, momen satu ini bisa jadi satu alternatif wisata.

Leave a Comment