Larangan Dalam Bahasa Jawa di Jogja

Kalau kamu pernah blusukkan ke kampung-kampung di Jogja, kamu pasti pernah melihat aneka iklan layanan masyarakat di Jogja. Mulai dari yang isinya melarang pemulung masuk kampung, jam bertamu hanya sampai jam sekian, dilarang ngebut, jalan pelan-pelan, dilarang kencing sembarangan, dilarang buang sampah sembarangan, ngamen gratis, dan sebagainya.

Biasanya, iklan-iklan ini ditulis dalam bahasa Indonesia. tapi di beberapa kampung kamu bisa menemui larangan-larangan itu dalam bahasa Jawa. bahkan ada juga yang menggunakan bahasa Jawa halus. Misalnya ALON WAE RASAH BANTER. Tahu artinya nggak Sob? Artinya kurang lebih begiri,  pelan saja nggak usah kencang-kencang. Ada pula yang pakai bahasa halus,  NYUWUN SEWU LE MBUCAL SAMPAH AMPUN TEN LINGKUNGAN JEMBATAN RIKI NGGIH MATUR NUWUN (mohon maaf membuangnya sampah jangan di lingkungan jembatan sini ya terima kasih).

Dalam bahasa Jawa, biasanya semakin seseorang itu diajak ngomong pakai bahasa jawa halus, orang itu semakin segan. Iklan layanan masyakarta yang menggunakan bahasa Jawa biasanya digunakan untuk menyindir oknum-oknum yang membuat sampah semabarangan. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk tetap menghormati orang dalam situasi apapun. Ya nggak Sob?

Orang Jawa dalam tingkatan tertentu justru akan semakin halus ngomongnya (krama/krama inggil) kalau ia memendam kemarahan atau kejengkelannya. Hal demikian terjadi karena pada umumnya orang Jawa nggak terbiasa menunjukkan kejengkelan atau kemarahannya secara terbuka, langsung, dan terus terang. Satire atau metafora banyak digunakan dalam masyarakat Jawa untuk menunjukkan protes, kemarahan, kejengkelan, atau juga kebencian mereka pada sesuatu hal. Semakin marah orang Jawa, dia bisa akan semakin halus dalam bertutur kata. Tapi kadang langsung mak jleb. Tepat disasaran.

 

Leave a Comment