Keripik Salak Pondoh dari Sleman

Selama ini, salak pondoh dikenal sebagai salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanaman salak pondoh terbilang eksentrik karena bentuk pohonnya yang mirip bagian atas pohon kelapa sawit dengan tambahan sentuhan sedikit corak tanaman pakis. Buah salak pondoh tumbuh di pangkal bawah pohon. Berbentuk kecil dengan daging buah yang kenyal serta tidak menempel dengan biji. Selain tekstur kenyal tersebut, rasa salak pondoh yang sangat manis menjadi keunggulan nilai jual tersendiri bagi buah khas lereng Merapi ini.

Meskipun sangat menggiurkan, kebanyakan orang yang berkunjung ke Sleman sepertinya agak malas atau enggan membawa salak pondoh sebagai oleh-oleh. Selain karena sukar dalam pengemasannya, para pelancong juga takut salak menjadi busuk jika dibawa menempuh perjalanan yang cukup lama. Beranjak dari hal tersebut, ada beberapa orang yang berinisiatif untuk mengolah salak pondoh menjadi keripik. Dengan keripik ini, Anda dapat membawa pulang salak pondoh tanpa harus mencemaskan cara pengemasan maupun kualitas ketahanannya. Salak pondoh yang biasanya “menyusahkan” itu sudah beralih rupa menjadi keripik yang tidak kalah unggul dari segi cita rasa, kandungan gizi, maupun keunikan khasnya.

Sengsara membawa nikmat. Itulah kiranya perumpamaan yang kira-kira pantas untuk menggambarkan proses “kelahiran” keripik salak pondoh. Memasuki era milenium abad ke-21, harga salak pondoh mengalami ketidakstabilan. Terkadang harganya sangat mahal, namun tidak jarang pula harganya turun ke titik terendah. Bahkan, harga salak pondoh super pernah anjlok sampai ke angka 500 rupiah per kilogram. Kondisi ini sangat mencemaskan bagi petani salak pondoh di Kabupaten Sleman yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Apalagi salak pondoh kini banyak ditanam di wilayah-wilayah lain dan hasilnya juga cukup baik.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, sejumlah petani salak pondoh di Sleman dan sekitarnya mencari alternatif lain namun tetap dengan memaksimalkan buah salak sebagai bahan baku utama. Akhirnya, lahirlah produk baru yang dihasilkan dari inovasi salak pondoh, yakni penganan unik yang berwujud keripik. Gagasan awal dari pembuatan keripik salak pondoh sebenarnya berawal dari penelitian yang dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, bahwa ternyata salak pondoh bisa dijadikan keripik yang bergizi tinggi dan teramat lezat rasanya.

Keistimewaan

Keberadaan keripik salah pondoh memang belum banyak dikenal jika dibandingkan dengan ragam oleh-oleh lain yang lebih populer di Yogyakarta, seperti gudeg, bakpia pathok, yangko Kotagede, geplak Bantul, maupun jadah tempe Kaliurang. Namun, seiring perkembangan produktivitas dan keunggulan yang ditawarkan keripik salak pondoh, penganan ini diyakini akan segera menjadi primadona alias buah tangan favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, khususnya ke Kabupaten Sleman.

Jika disandingkan dengan jenis keripik buah yang lain, keripik salak pondoh berasa lebih manis, padahal makanan ringan alami ini dibuat tanpa pemanis tambahan seperti keripik-keripik buah lainnya. Tidak sembarang salak pondoh bisa dijadikan keripik dengan kualitas tinggi, baik dari segi rasa maupun kandungan gizinya. Hanya jenis salak pondoh hitam, salak lumut, dan salak lokal saja yang dapat menghasilkan keripik yang berkualitas. Daging salak pondoh yang digunakan untuk membuat keripik harus yang masih mengkal atau muda.

Setelah proses pemilihan dan pemilahan salak yang layak diolah menjadi keripik, tahap selanjutnya adalah mengambil daging salak dengan mengupas kulit dan mengeluarkan bijinya. Setelah proses tersebut, setiap 10 kilogram salak segar akan menyusut menjadi 6 kilogram saja. Selanjutnya, daging salak yang sudah bersih diiris tipis-tipis, kemudian digoreng dengan menggunakan mesin khusus yang disebut vacuum frying selama sekitar satu jam. Setelah melalui proses penggorengan, daging salak akan mengering dan berubah menjadi keripik. Berat totalnya pun menyusut menjadi satu sampai dua kilogram saja.

Mesin khusus yang digunakan untuk menggoreng salak pondoh atau vacuum frying adalah hasil dari teknologi penggorengan dengan sistem hampa. Alat penggoreng hampa yang berbasis teknologi pompa jet air (waterjet pump) ini, mampu menurunkan titik didih minyak penggoreng hingga di bawah 1000 derajat Celcius. Dengan sistem seperti itu mutu rasa, aroma, dan zat gizi keripik buah tidak jauh berbeda dengan salak pondoh segarnya, namun dengan tekstur yang renyah dan kering.

Untuk dibawa sebagai buah tangan, salak pondoh dalam rupa keripik memang lebih praktis daripada buahnya sendiri. Rasanya pun tidak kalah manis, nikmat, dan segar seperti buah salak aslinya. Keunggulan lainnya adalah Anda tidak perlu repot-repot membawa buah salak yang cukup sulit dikemas dan mudah membusuk jika dibawa berpergian dalam waktu yang agak lama. Karena keripik salak pondoh memiliki daya tahan yang kuat. Keripik salak pondoh yang dikemas dan disimpan secara benar dan tepat, masa kadaluarsanya bisa mencapai 10 bulan hingga 1 tahun.

Lokasi

Untuk mencicipi Keripik Salak Podoh, Anda dapat juga berkunjung ke perkebunan-perkebunan salak yang sudah dibuka untuk umum sebagai tempat tujuan agrowisata, salah satu yang paling populer adalah di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Koperasi Agrowisata Turi menyediakan beraneka ragam makanan khas, termasuk keripik salak pondoh.

Apabila Anda tidak punya cukup waktu untuk pergi ke Kabupaten Sleman, jangan khawatir. Di dalam Kota Yogyakarta ada juga produsen keripik salak pondoh, tepatnya di daerah Umbulharjo. Selain itu, jika beruntung, Anda bisa menjumpai keripik salak pondoh di pusat penjualan oleh-oleh khas Yogyakarta, supermarket, pasar tradisional, maupun sentra-sentra belanja tersebar di Kota Yogyakarta dan di sekitarnya.

Harga

Keripik salak pondoh seberat 100 gram dibanderol dengan harga rata-rata Rp. 1.000,00 (April 2010).

Leave a Comment