Kampung Batik Laweyan Solo

Sob, nggak cuma Jogja aja yang punya Kampung Batik. Solo juga punya. Namanya Kampung Batik Laweyan. Kampung Batik Laweyan adalah salah satu sentra kerajinan batik yang cukup terkenal di daerah Solo. Di kampung ini terdapat ratusan pembatik. Para pembatik di kampung ini merupakan generasi ketiga dari pendirinya.

Kampung Laweyan memang bukan sekadar sentra kerajinan batik. Tapi kampung ini punya sejarah panjang. Mengalami pasang-surut perkembangan hingga sekarang menjadi sentra kerajinan batik yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Menurut sejarahnya, Kampung Laweyan sudah ada sejak masa pemerintahan Kerajaan Pajang pada abad ke-15 M. Pada masa itu, kampung ini dikenal sebagai penghasil bahan baku kapas. Selain itu juga dikenal dengan industri tenun dan pakaian. Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian dalam bahasa Jawa disebut dengan lawe. Oleh sebab itu, kampung sentra kerajinan batik ini dinamakan Kampung Laweyan.

Kampung Laweyan yang pada awalnya hanya memproduksi kain tenun dan bahan pakaian, baru selanjutnya berubah menjadi produsen batik. Cikal-bakal Kampung ini menjadi kampung batik bermula dari kedatangan seorang keturunan Raja Brawijaya V yang bernama Kiai Ageng Henis. Ia bermukim di kampung ini pada tahun 1546 M.

Kiai Ageng Henis pada mulanya beragama Hindu. Tapi selanjutnya diislamkan oleh Sunan Kalijaga. Waktu itu, kebetulan Sunan Kalijaga singgah di Kampung Laweyan dalam perjalanan menuju Kerajaan Pajang. Setelah itu, selain menyebarkan agama Islam bersama Sunan Kalijaga, Kiai Ageng Henis juga mengajarkan teknik membuat batik cap dan batik tulis kepada penduduk Laweyan.

KEISTIMEWAAN

Berkunjung ke kampung ini kamu nggak akan rugi Sob. Di kampung ini, kamu bisa membeli batik dengan beragam motif sesuai dengan selera. Dari sekian banyak motif, motif khas batik Laweyan yang paling terkenal adalah motif Tirto Tejo dan motif Truntun. Batik Laweyan ini memiliki cara pengelolaan yang khas. Pada ruang bebas warna cenderung diisi warna kecoklatan (sogan).

Beda dari gaya batik daerah lainnya yang ruang bebas warna cenderung diisi dengan warna yang lebih cerah. Batik khas Laweyan cenderung gelap mengikuti kencenderungan batik pedalaman. Selain kaya dengan motif, jenis-jenis batik yang diproduksi dan dijual di Kampung Laweyan ini juga beragam. Nggak cuma kain bahan, tapi juga bahan batik yang sudah jadi seperti badcover, seprei, baju, tas, dan bahkan beragam jenis handycraft dan suvenir khas Solo.

Disini kamu juga bisa melihat proses pembuatan motif batik, mulai dari pewarnaan, pencelupan, hingga pengeringan. Daya tarik lain yang bisa nikmati di Kampung Laweyan adalah ciri khas bentuk rumah penduduk yang bergaya perpaduan arsitektur Eropa-Jawa-Islam. Selain itu ada   sebuah bangunan bergaya kolonial yang dikenal dengan nDalem Tjokrosoemarto. Bangunan rumah seluas 1800 m2 ini merupakan peninggalan Tjokrosoemarto. Salah satu perintis dan eksportir Indonesia di Solo. Sejak tahun 1990, Tjokrosoemarto telah membuat batik untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia dan diekspor keluar negeri.

LOKASI

Kampung Laweyan berada di wilayah Desa Lawiyan atau Laweyan, Kecamatan Lawiyan, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah.

AKSES

Kampung Laweyan mudah dijangkau. Lokasinya nggak begitu jauh dari Kota Solo. Untuk menuju ke lokasi, kamu bisa menggunakan transportasi umum seperti bus atau taksi yang banyak tersedia di Kota Solo maupun kendaraan pribadi. Perjalanan dari Kota Solo menuju ke lokasi dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30-45 menit.

HARGA TIKET

Free.

AKOMODASI DAN FASILITAS LAINNYA

Fasilitas tambahan yang bisa kamu gunakan antara lain masjid/langgar, pusat pelayanan dan pelatihan batik Laweyan, pusat pelatihan budaya Jawa di bidang tari dan bahasa, pasar tradisional, makam bersejarah, hotel melati maupun hotel berbintang, restaurant/café, gedung pertemuan dan lain sebagainya.

 

Leave a Comment