Jemparingan, Belajar Memanah Gaya Mataram

Jemparingan, Belajar Memanah Gaya Mataram

Perjuangan para pahlawan untuk mengusir penjajah dulu sangatlah berat. Harus berjuang dengan senjata seadanya, bertempur melawan senjata yang sudah lebih maju.

Bambu runcing menjadi andalan untuk menghadapi para penjajah. Selain itu ada juga yang menggunakan busur dan anak panah. Senjata yang digunakan para prajurit kerajaan pada jaman dahulu.

Saat ini, olahraga panahan sudah menjadi salah satu cabang yang dilombakan. Bukan cuma pertandingan antar kampung ya, tapi udah masuk beberapa event besar seperti  PON, SEA GAMES, Asean Games dan olimpiade juga lho.

Mungkin kalau lihat orang memanah di perlombaan seperti itu kamu sudah pernah. Tapi gimana jadinya kalau memanah menggunakan baju adat? Memanahnya sambil duduk bersila lagi, udah pernah lihat? Kalau belum pernah sepertinya kamu harus mampir ke Jogja deh.

Jemparingan

Kalau kamu belum tau apa itu jemparingan, mending kenalan dulu aja yuk. Jemparingan adalah olahraga memanah yang menggunakan gaya tradisional dari Mataram Yogyakarta. Kamu bisa lihat dari busur panahnya yang masih sederhana, terbuat dari kayu dan bambu.

Olahraga atau bisa disebut juga seni memanah ini mulai banyak peminatnya beberapa tahun belakangan. Khususnya warga Jogja yang masih tetap ingin melestarikan budaya warisan leluhur.

Keunikan Jemparingan

Jemparingan ini berbeda dengan olahraga memanah pada umumnya lho. Jemparingan masih mempertahankan tata cara dan budaya memanah tradisional dalam peraturannya.

Selain itu, kalau kamu mau melakukan jemparingan, posisinya harus duduk bersila dan memakai pakaian adat. Biasanya, pemanah akan mengenakan pakaian berupa sorjan lengkap dan blangkon.

Sasaran panahnya bukan lingkaran target seperti dalam perlombaan panahan. Melainkan sebuah badul berwarna putih dengan bagian atas berwarna merah. Bandul ini kemudian diikat menggunakan tali dan diletakkan dengan jarak tertentu dari pemanah.

Bahan yang digunakan untuk membuat bandul adalah kayu yang lunak, berbentuk silinder dengan panjang sekitar 30 cm dan diameternya 3 cm.

Bandul digunakan untuk menggantikan sasaran panah, menggambarkan musuh yang akan menyerang. Warna merah pada ujung bandul diibaratkan sebagai kepala musuh. Dalam perlombaan, peserta yang mengenai warna merah akan mendapatkan nilai tiga. Sedangkan jika mengenai warna putih hanya mendapat nilai satu.

Peserta dalam lomba jemparingan akan memanah sebanyak 20 rambahan/ ronde. Nah, setiap rambahan menggunakan lima anak panah. Pergantian rambahan ditandai dengan bunyi peluit yang ditiup oleh juri.

Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pergantian rambahan ditandai dengan bunyi bendhe, sejenis gong yang berbentuk kecil. Pada saat pergantian rambahan, cucuk atau orang yang membantu pemanah akan mengambil anak panah yang menancap di bandul.

Berawal dari Tradisi

Awalnya adalah tradisi Keraton Yogyakarta, sekarang jemparingan sudah mulai banyak tersebar di Jogja. Ada kelompok-kelompok kecil yang berusaha turut melestarikan budaya jemparingan ini.

Kelompok-kelompok ini secara berkala mengadakan latihan  bersama. Bahkan, sering juga diadakan kompetisi jemparinga yang didukung pemerintah Kota Yogyakarta.

Latihan Jemparingan

Kalau kamu pengen ikut latihan jemparingan, langsung dateng aja ke salah satu kelompok pelestari jemparingan. Salah satunya adalah Paseduluran Jemparingan Langensastro yang berada di Sasono Jemparingan Jalan Langenastran Kidul no. 6 Panembahan Kraton, Yogyakarta. Kalau nggak tau tempatnya, itu lho sebelah timur Alun-alun Kidul.

Kalau cewek juga boleh ikut nggak nih? Wah, boleh banget tuh, soalnya yang latihan nggak cuma laki-laki aja kok, perempuan juga ada yang belajar memanah. Biar sama-sama ikut melesterikan budaya Jogja, jadi nggak didominasi kaum Adam aja.

wego.co.id
wego.co.id

Nah, gambar di atas buktinya tuh, perempuan juga bisa ikut memanah gaya Mataram. Foto itu merupakan lomba jemparingan yang diadakan di Kestalan, Puro Pakualaman, Yogyakarta.

Leave a Comment