Gatot, Wajah Lain Ketela

Udah pernah ke Gunungkidul belum? Kalau sudah, makanan apa yang paling kamu sukai dari kuliner Gunungkidul? Tiwul? Gathot? Atau kuliner ekstrimnya, ungker (kepompong ulat jati)? Bagi yang baru mau ke Gunungkidul, ada satu kuliner khas Gunungkidul yang kudu kamu coba. Camilan yang diolah dari gaplek atau ketela yang keringkan ini rasanya nano-nano. Ada gurihnya, ada manisnya, ajib deh pokoknya. Masyarakat setempat menyebutnya gatot. Gatot ini bukan plesetan dari gagal total lho ya.

Biasanya gatot disajikan dengan taburan parutan kelapa. Penyajiannya mirip-mirip penyajian tiwul. Tapi ini beda. Walaupun sama-sama berbahan dasar ketela yang telah dikeringkan, tapi rasanya benar-benar beda. Pada awalnya gatot juga jadi salah satu makanan pokok masyarakat Gunungkidul. Selain karena Gunungkidul merupakan daerah berbatu sehingga masyarakat banyak menanam ketela di ladangnya, juga karena dulu kondisi ekonomi masyarakat Gunungkidul belum memungkinkan untuk mengkonsumsi nasi setiap hari. Jadilah mereka menjadikan gatot sebgai salah satu makanan pokoknya.
Sekarang jaman udah beda. Beras bukan lagi makanan langka yang harganya tidak terjangkau. Kini, perekonomian masyarakat Gunungkidul jauh lebih baik. Makanan pokok masyarakatnya pun kini nasi, bukan lagi tiwul atau gatot yang berbahan dasar ketela.

UNIKNYA GATOT DIBANDINGKAN DENGAN MAKANAN YANG LAIN.

Kalau kita biasanya nyari makanan yang nggak berjamur. Beda kalau makan gatot, semakin item (berjamur) semakin enak. Tapi tenang aja, jamurnya nggak berbahaya kok. Justru semakin item gatotnya semakin bagus. Kalau dalam bahasanya orang Jogja, “gatot ingkang sekeco ingkang wernan’e ireng”. Artinya, gatot yang bagus adalah yang berwarna hitam. Jadi janganheran kalau banyak produsen gatot sengaja menghujan-hujankan ketela yang sedang dijemur. Tujuannya biar gatotnya nanti jadi item.
Cara pembuatannya simpel. Ketela yang masih segar dikupas lalu dijemur (ketelanya dibikin gaplek dulu). Biar rasanya gatot banget, sekali-sekali dihujan-hujanin. Jadinya nanti akan muncul warna gaplek yang agak-agak item. Ini yang bikin sensasi berbeda dari gatot.

Setelah kering, gaplek yang mau diolah jadi gatot direndam selama 12 jam, terus dicuci bersih. Habis itu diiris dadu, gedhenya sesuai selera. gaplek yang udah diiris-iris dikukus selama 2 jam. Setelah 2 jam, gatot yang sudah matang diangin-anginkan. Biar lebih ajib, sebelum dihidangkan gatot dicampur dengan garam dan gula, nggak perlu banyak-banyak, tujuannya biar ada rasa gurih dan manis aja. Selanjutnya dicampur dengan parutan kelapa. Gatot siap dihidangkan.

Paduan rasa asin, manis, dan sedikit pahit membuat rasa gatot semakin unik. Belum lagi sensasi kenyal yang ditimbulkan saat makan gatot. Pokoknya yummy deh.

KALAU MAU BELI DIMANA?

Nah, bagi kamu yang suka mbolang sekaligus wisata kuliner. Bisa dapetin gatot di pasar-pasar tradisional di daerah Jogja atau Gunungkidul. Tapi, kalau kamu mau nemuin pasar tradisional di Gunungkidul, kamu kudu udah stand by di Gunungkidul sejak pagi subuh. Soalnya di Gunungkidul masih mengenal pasar dadakan. Misalnya pasar legi, pasar wage dan lain sebaginya. Itulah sensasinya mbolang ke Gunungkidul. Kamu bisa ngrasain sejuknya alam bersamaan dengan menikmati ketradisionalan masyarakat Gunungkidul.

Tapi kalau kamu nggak bisa stand by di Gunungkidul mulai pagi subuh. Kamu bisa beli gatot di toko oleh-oleh khas Gunungkidul. Salah satunya toko oleh-oleh “Yu Tum”. Selain menjual tiwul, toko oleh-oleh “Yu Tum” juga menjual gatot.

Toko oleh-oleh “Yu Tum” beralamat di JI. Pramuka No. 36. Wonosari, Gunungkidul, Telp (0274) 7889300 – 081328741792.

MANA ITU?

Yah, kagak tahu juga? Gini aja deh, kamu naik bus jurusan Jogja-Wonosari. Terus bilang sama bapak kondekturnya, kalau mau diturunin di toko oleh-oleh “Yu Tum”. Pasti semua kondektur bus jurusan Jogja-Wonosari udah tahu. Letak pastinya kurang lebih 100 meter sebelum tugu selamat datang di kota Wonosari kalau dari arah Jogja.

HARGANYA?

Tenang aja, makanan Jogja itu selalu murah meriah, tidak menguras kantong. Porsi kecil dibandrol harga Rp 5000,00, kalau yang ukuran sedang harganya Rp 10.000,00. Masih kurang juga? Tenang aja, masih ada porsi jumbo, harganya Rp 15.000,00.

Nah, murah meriah kan? Dijamin kenyang dan kantong juga tidak terkuras banyak. So, tunggu apalagi. Ayo rame-rame beli gatot, dan rasakan sensasinya.

Leave a Comment