Dolanan Pot, Permaian Anak Tradisional

Nih buat kamu yang ngaku anak modern, harus kenal dolanan macam beginian. Meskipun ini dolanan tradisional, serunya nggak kalah sama main PS. Namanya dolanan Pot. Dolanan pot minimal dimainkan oleh 2 anak. tambah asyik lagi kalau dimainkan antara 3—7 anak. Bahan utamanya adalah (kayak masak aja) kelereng. Tiap anak bebas membawa jumlah kelereng dari rumah. Ada yang membawa 10, 15, atau lebih, sesuai dengan selera(kayak bikin kie instan aja akai seseuai selera). doalan satu ini murah banget Sob. Apalagi jaman dulu 100 perak sudah mendapatkan 10 kelereng bahkan 20 kelereng. Kalau sekarang sekitar 1000 rupiah per 10 kelereng.

Pertama-tama masukkan ayam, eh buat gambar pot yang menyerupai, hati, daun waru, surban atau kubah. Sekali lagi sesuai selera. Ukurannya bebas, tapi biasanya dengan lebar sekitar 30—40 cm. Setelah itu, juga harus membuat sebuah garis “uncal” atau lempar dengan jarak sekitar 7—10 meter dari gambar pot.

Sesuai dengan kesepakatan, misalnya setiap anak menaruh 2 kelereng di dalam pot. Sebagian kelereng taruhan diletakkan di ujung-ujung pot. Setelah itu setiap anak menuju garis uncal dengan mempersiapkan sebuah gacuk kelereng. Kelereng yang digunakan adalah kelereng yang menurutnya paling bagus. Kalau bisa gacuk sedekat mungkin dengan pot atau bahkan bisa mengenai kelereng yang ada di dalam pot. Kalau ada anak yang bisa mengenai kelereng di dalam pot, dan kelereng itu keluar dari garis pot, maka anak itu berhak untuk main duluan. Dengan catatan gacuknya nggak tertinggal di dalam pot. Soalnya, kalai gacuknya tertinggal di dalam pot berarti mati.

Kalau ada 2 pemain yang sama-sama bisa mengeluarkan kelereng di dalam pot, maka yang berhak main duluan adalah pemain yang terakhir mengeluarkan kelereng. Tapi kalau dalam satu sesi nggak ada pemain yang mengeluarkan kelereng di dalam pot, maka yang berhak bermain duluan adalah pemain yang gacuknya terdekat dengan garis pot.

Pemain dengan gacuknya di tempat posisi gacuknya harus menembak kelereng di dalam pot hingga keluar garis. Caranya, gacuk diletakkan di ujung telapak tangan kanan kemudian disentil dengan ibu jari, atau bisa pula dengan cara diletakkan di ujung telunjuk tangan kiri lalu disentil dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan. Apabila tembakannya mengenai sasaran sehingga ada kelereng yang keluar pot, maka ia berhak main lagi. Setiap menembak sasaran, bertolak dari tempat gacuk terakhir berhenti. Setelah pemain itu mendapatkan kelereng dari dalam pot, misalkan satu atau dua, maka ia berhak mematikan pemain lawan. Caranya sama, yakni dengan menembak gacuk lawan dengan gacuknya. Kalau kena, maka matilah lawan. Lawan sudah nggak berhak bermain lagi. Kalau sudah beberapa nggak mengenai sasaran, maka giliran bermain pada pemain lain. Begitu seterusnya.

Sumber: Baoesastra Djawa, WJS. Poerwadarminta, 1939, Groningen, Batavia: JB. Wolters’ Uitgevers Maatscappij NV.,

 

Leave a Comment